Senin, 10 Oktober 2011

kewirausahaan

Kewirausahaan.

kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inofatif yang dijadikan dasar , kiat dan sumber daya untuk mencari peluang sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda (create new and different) melalui berpfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang.
macam macam sumber daya yang dapat dikembangkan untuk kewirausahaan :
1.      Pengembangan teknologi baru.
2.      Penemuan pengetetahuan ilmiah baru.
3.      Perbaikan produk barang dan jasa yang ada.
4.      Penemuan cara-cara baru untuk menghasilkan barang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih efisien.

Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang baru dan berbeda, sedangkan inovasi merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baru dan berbeda. Dan ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari nilai, kemampuan (ability) dan prilaku seseorang menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. Pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen karena :

1.      Kewirausahaan berisi body of knowledge yang utuh dan nyata (distictive), yaitu ada teori,konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.
2.      Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi venture start-up dan venture-growth, ini jelas tidak masuk dalam kerangka pendidikan manajemen umum (frame work general management courses) yang memisahkan antara manajemen dan kepemilikan  usaha (busineness ownership).
3.      Kewirausahaan merupakan disipin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create new and differnt things).
4.      Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan pendapat (wealth creation process an entrepreneurial endeavor by is own night, nations prosperity, individual self-reliance) atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.


Objek studi kewirausahaan.
Menurut soeparman soemahamidjaja kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi:
1.      Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha. Dalam merumuskan tujuan hidup/usaha tersebut perlu perenungan,koreksi, yang kemudian berulanh-ulang dibaca dan diamati sampai memahami apa yang menjadi kemauannya.
2.      Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad kemauan yang menyala-nyala.
3.      Kemampuan untuk berinisiatif, yaitumengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif.
4.      Kemampuan berinovasi, yang melahirkan  kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi. Kebiasaan inovatif adalah desakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru apa saja yang dapat dijadikan peranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemakmuran masyarakat.
5.      Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang modal (capital goods).
6.      Kemampuan untuk mengatur waktu dan membiasakan diri untuk selalu tepat waktu dalam segala tindakan melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan.
7.      Kemampuan mental yang dilandasi agama.
8.      Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik maupun menyakitkan.
 Hakikat kewirausahaan.

 istilah kewirausahaan berasal dari terjemahan entreprenueship, yang dapat diartikan sebagai “the backbone of economy”, yaitu syaraf pusat perekonomian atau sebagai “tail bone of economy” , yaitu pengendali perekonomian suatu bangsa (soeharto wirokusumo). Secara epistomologi, kewirausahaan merupakan nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) atau suatu proses dalam mengerjakan suatu yang baru (creative) dan sesuatu yang berbeda (innovative). Wirausaha adalah pelopor dalam bisnis, inovator,penanggung resiko, yang mempunyai visi ke depan, dan memiliki keunggulan dalam berprestasi di bidang usaha. Fungsi wirausaha adalah memperkenalkan barang baru, melaksanakan metode produksi baru, membuka bahan/sumber-sumber baru, dan pelaksanaan organisasi baru.

Unsur-unsur kewirausahaan meliputi motivasi,visi,komunikasi,optimisme,dorongan semangat, kemampuan memanfatkan peluang. Dan esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Dari beberapa konsep diatas ada enam haikat penting kewirausahaan, yaitu :
1.      Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam prilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan,siasat,kiat, dan hasil bisnis (ahmad sanusi,1994).
2.      Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (drucker, 1959).
3.      Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kretivitas dan inovasi dlam memecahakan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha).(zimmerer,1996).
4.      Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan  untuk memulai suatu usaha (start-up-phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (soeharto prawiro,1997).
5.      Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (innovative) yang bermanfaat  memberikan nilai lebih.
6.      Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.


Ciri penting tahap permulaan dan pertumbuhan kewirausahaan.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 115 usaha kecil unggulan di kabupaten bandung yang dilakukan oleh penulis diperoleh kesimpulan bahwa pada umumnya proses pertumbuhan kewirausahaan pada usaha kecil tersebut memiliki tiga ciri penting yaitu :
1.      Tahap imitasi dan duplikasi (imitating and duplicating)
2.      Tahap duplikasi dan pengembangan (duplicating and developing)
3.      Tahap menciptakan sendiri barang dan jasa baru yang berbeda (creating new and different).

Faktor penyebab keberhasilan dan kegagalan wirausaha.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi wirausaha. Zimmer mengemukakan beberapa faktor-faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya :
1.      Tidak kompeten dalam manjerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.
2.      Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan tehnik, kemampuan
 memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
3.      Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan  dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional perusahaan dan mangakibatkan perusahaan tidak lancar.
4.      Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5.      Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang effisien.
6.      Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efeksivitas.
7.      Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah setengah  terhadap usahaakan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
8.      Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/ transisi kewirausahaan. Wirausaha yang kurang siap menghadapai dan melakukan  perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

Selain faktor-faktor yang membuat kegagalan kewirausahaan, zimmerer mengemukakan beberapa potensi yang membuat seseorang mundur dari kewirausahaan, yaitu :
1.      Pendapatan yang tidak menentukan. Baik pada tahap pertumbuhan, dalam bisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan. Dalam kewirausahaan, sewaktu waktu bisa rugi dan sewaktu waktu juga bisa untung. Kondisi yang tidak menentu dapat membuat seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha.
2.      Kerugian akibat hilangnya modal investasi. Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah tinggi. Menurut Yuyun wirasasmita (1998), tingkat mortalitas/kegagalan usaha kecil di Indonesia mencapai 78%. Kegagalan investasi mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha. Bagi seorang wirausaha, kegagalan sebaiknya dipandang sebagai pelajaran berharga.
3.      Perlu kerja keras dan waktu yang lama. Wirausaha biasanya bekerja sendiri mulai dari pembelian,pengolahan,penjualan, dan pembukuan. Waktu yang dan keharusan bekerja keras dalam berwirausaha mengakibatkan orang yang ingin menjadi wirausaha menjadi mundur. Ia kurang terbiasa dalam menghadapi tantangan. Wirausaha yang berhasil pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan di tekuni.
4.      Kualitas kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya mantap. Kualitas kehidupan yang tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha. Misalnya, pedagang yang kualiatas kehidupanya tidak meningkat, maka akan mundur dari usaha dagangnya dan masuk ke usaha lain.


Keuntungan dan kerugian berwirausaha.

Keuntungan berirausaha.
1.      Otonomi. Pengelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wirausaha menjadi seorang “bos”yang penuh kepuasan.
2.      Tantangan awal dan perasaan motif berprestasi. Tatangan awal atau perasaan bermotivasi yang tiggi merupakan hal yang menggembirakan. Peluang untuk mengembangkan konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan sangat memotivasi wirausaha.
3.      Kontrol finansial. Bebas dalam mengelola keuangan, dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri.


Kerugian berwirausaha.

1.      Pengorbanan personal. Pada awalnya wirausaha harus bekerja dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit sekali waktu untuk kepentingan keluarga,rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis.
2.      Beban tanggung jawab. Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran,keuangan, personil maupun pengadaan dan pelatihan.
3.      Kecilnya margin keuntungan dan kemungkinan gagal. Karena wirausaha menggunakan keuangan yang kecil dan keuangan milik sendiri, maka margin laba/keuntungan yang diperoleh akan relatif kecil dan kemungkinan gagal juga ada.



Pengelompokan kewirausahaan berdasarkan kegiatannya:
1.      Kewirausahaan rutin (wirth), yaitu wirausaha yang dalam kegitan sehari-harinya cenderung menekankan pada permasalahan dan perbaikan standar prestasi tradisional. Wirausaha rutin adalah mengadakan perbaikan-perbaikan stndar tradisional, bukan penyusunan dan pengalokasinasikan sumber. Wirausaha ini berusahauntuk menghasilkan barang dan teknologi, misalnya seorang pegawai atau manajer, wirausaha rutin dibayar dalam bentuk gaji.
2.      Kewirausahaan arbitrase, yaitu wirausaha yang selalu mengambil peluang melalui kegiatan penemuan (pengetahuan) dan pemanfaatan (pembukaan). Misalnya, bila tidak terjadiekuilibrium penawaran dan permintaan pasar, maka ia akan membelimurah dan menjualnya dengan mahal. Kegiatan kewirausahaan arbitase tidak perlu melibatkan pembuatan barang dan tidak menyerap dan pribadi wirausaha. Kegiatanya melihat spekulasi dalam memanfaatkan perbedaan harga jual dan beli.
3.      Wirausaha inovatif, yaitu wirausaha dinamis yang menghasilkan ide-ide dan kreasi-kreasi baru yang berbeda. Ia merupakan promotor, tidak saja dalam memperkenalkan teknik dan produk baru, tetapi jiga dalam pasar dan sumber pengadaan, peningkatan teknik manajemen, dan metode distribusi baru. Ia mengadakan proses dinamis pada produk,proses,hasil,sumber pengadaan, dan organisasi yang baru.


Fungsi makro dan mikro wirausaha.
Dilihat dari ruang lingkupnya wirausaha memiliki dua fungsi, yaitu fungsi fungsi makro dan fungsi mikro. Secara makro, wirausaha berperan sebagai penggerak,pengendali, dan pemacu perekonomian suatu bangsa. Di amerika serikat,eropa barat, dan negara-negara di asia, kewirasuhaan menjadi kekuatan ekonomi negara tertentu, sehingga negara-negara tersebut menjadi kekuatan ekonomi dunia yang kaya dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Secara mikro, peran wirausaha adalah penanggung resiko dan ketidakpastian, mengombinasikan sumber-sumber ke dalam cara yang baru dan berbeda untuk menciptakan nilai tambah dan usaha-usaha baru. Dalam melakukan fungsi mikronya menurut marzuki usman (1977), secara umum wirausaha memiliki dua peran, yaitu
1.      Sebagai penemu (innovator)
2.      Sebagai perencana (planner)

Sebagai innovator,wirausaha berperan dalam menemukan dan menciptakannya:
a)    Produk baru (the new product)
b)   Teknologi baru (the new technology)
c)    Ide-ide baru (the new image)
d)   Organisasi usaha baru (the new organization).

Sebagai planner, wirausaha berperan dalam merancang :
a)    Perencanaa  perusahaan (corporate plan)
b)   Strategi perusahaan (corporate strategy


Menurut zimmer (1995:51) fungsi wirausaha adalah menciptakan nilai barang dan jasa di pasar melalui proses pengombinasian sumber daya dengan cara-cara baru yang berbeda untuk dapat bersaing. Nilai tambah tersebut diciptakan melalui :
1.      Pengembangan teknologi baru (developing new technology)
2.      Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge)
3.      Perbaikan produk dan jasa yang ada (improving existing product or serices).
4.      Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah lebih banyak dengan menggunakan sumber daya lebih sedikit (finding diffenent ways of providing more goods and services with fewer resources).

Lain halnya dengan werner shombart (1902), yang membagi fungsi entreprenuer menjadi tiga hal yaitu :
1.      Captain of industry, yang mulai sebagai teknisi atau tukang dalam satu bidang keahlian, kemudian berhasil menemukan sesuatu yang baru, bukan dengan sengaja melainkan karena hasil temuan dan kehebatan daya cipta.
2.      Usahawan (businessman), yaitu orang yang menganalisis berbagai kebutuhan masyarakat, merangsang kebutuhan baru untuk mendapat langganan baru. Perhatiannya yang paling utama adalah penjualan.
3.      Pemimpin keuangan (financial leader), yaitu orang yang sejak muda menekuni keuangan,mengumpulkan uang, dan mengabungkan sumber-sumber keuangan.

Ide kewirausahaan.
Menurut zimmerer, ide-ide yang berasal dari wirausahaan menciptakan peluang untuk memenuhi kebutuhan riil dipasar. Itu menciptakan nilai potensial di pasar sekaligus menjadi peluang dalam mengevaluasi ide untuk menciptakan nilai-nilai peluang usaha, wirausaha perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua resiko yang mungkin terjadi dengan cara :
1.      Pengurangan kemungkinan resiko melalui strategi yang proaktif.
2.      Penyebaran resiko pada aspek yang paling mungkin.
3.      Pengelolaan resiko yang mendatangkan nilai dan manfaat.

Ada tiga resiko yang dapat dievaluasi yaitu :
1.      Resiko pasar atau resiko persaingan.
2.      Resiko finansial.
3.      Resiko tehnik.

Resiko pasar terjadi akibat adanya ketidakpastian pasar. Resiko finansial terjadi akibat rendahnya hasil penjualan dan tingginya biaya. Resiko tehnik terjadi sebagai akibat adanya kegagalan teknik, pada hakikatnya, ketidakpastian pasar terjadi akaibat dari berbagai faktor seperti lingkungan ekonomi,teknologi,demografi, dan sosial politik.

Menurut zimmerer (1996:82) kreativitas sering kali muncul dalam ide-ide untuk menghasilkan barang dan jasa-jasa baru. Ide itu sendiri bukan peluang dan tidak akan muncul bila wirausaha tidak mengadakan evaluasi dan pengamatan secara terus menerus. Banyak ide yang betul-betul asli, akan tetapi sebagian besar peluang tercipta ketika wirausaha memiliki cara pandang baru terhadap ide yang lama, pertanyannya, bagaimana ide bisa menjadi peluang ? ada beberapa cara, antara lain :
1.      Ide dapat digerakan secara internal melalui perubahan cara-cara/metode yang lebih baik untuk melayani dan memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya.
2.      Ide dapat dihasilkan dalam bentuk produk dan jasa baru.
3.      Ide dapat dihasilkan dalam bentuk modifikasi bagaimana pekerjaan dilakukan atau modifikasi cara melakukan suatu pekerjaan.


Langkah dan ide dalam menggali potensi kewirausahaan:
1.      Menciptakan produk baru dan berbeda.
2.      Mengamati pintu peluang.
3.      Analisis dan proses produksi secara mendalam.
4.      Menaksir biaya awal.
5.      Memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi.

Bekal pengetahuan dan kompetensi kewirausahaan.
Seperti dikemukakan dalam nasil survei yang dilakukan oleh lambing (2000) bahwa kebanyakan responden yang menjadi wirausaha berasal dari pengalaman sehingga ia memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jadi, untuk menjadi wirausaha yang berhasil, persyaratan utama yang harus dimiliki adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jiwa dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan, atau kompetensi. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha.

Seperti telah dikemukakan, bahwa seseorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda atau kemampuan kreatif dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatiftersebut secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai usaha. Kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru. Kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang, kemampuan dan keberanian untuk menanggung resiko dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan meramu sumber daya. Kemauan untuk :
1.      Menghasilkan produk atau jasa baru (the new product or new service)
2.      Menghasilkan nilai tambah baru (the new value added)
3.      Merintis usaha baru (new business)
4.      Melakukan proses/teknik baru (the new organization)

Wirausaha berfungsi sebagai perencana (planner) sekaligus pelaksana usaha (businessman). Sebagai perencana (planner), wirausaha berperan :
1.      Merancang perusahaan (corporate plan)
2.      Mengatur strategi perusahaan (corporate strategy)
3.      Pemerkasa ide-ide perusahaan (corporate image)
4.      Pemegang visi untuk memimpin (visioner leader)

Sedangkan sebagai pelaksana usaha (businessman), wirausaha berperan :
1.      Menemukan,menciptakan, dan menerapkan ide baru yang berbeda (create the new and different)
2.      Meniru dan menduplikasi (imitating and duplicating)
3.      Meniru dan memodifikasi (imitating and modification)
4.      Mengembangkan (develop) produk baru,teknologi baru,citra baru, dan organisasi baru.

Karena wirausaha identik dengan pengusaha kecil yang berperan sebagai pemilik dan manajer, maka wirausahalah yang memodali, mengatur,mengawasi menikmati, dan menanggung resiko. Seperti telah dibahas pada bab 4 bahwa untuk menjadi wirausaha pertama-tama yang harus dimiliki adalah modal dasar berupa ide atau visi yang jelas, kemampuan dan komitmen yang kuat, kecukupan modal baik uang maupun waktu, kecukupan tenaga dan pikiran. Modal modal tersebut sebenrnya tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan beberapa kemampuan (ability). Menurut casson (1982), yang dikutip yuyun wirasasmita ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki yaitu :
1.      Self knowledge, yaitu memiliki pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukannya atau ditekuninya.
2.      Imagination, yaitu memiliki imajinasi,ide,dan perspektif serta tidak mengandalkan pada sukses di masa lalu.
3.      Practical knowledge, yaitu memiliki pengetahuan praktis misalnya pengetahuan teknik,desain,pemerosesan,pembukuan,adminitrasi, dan pemasaran.
4.      Search skill, yaitu kemampuan untuk menemukan,berkreasi, dan berimajinasi.
5.      Foresight, yaitu berpandangan jauh ke depan.
6.      Computation skill, yaitu kemampuan berhitung dan kemampuan memprediksi keadaan masa yang akan datang.
7.      Comunication skill, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, bergaul, dan berhubungan dengan orang lain.


Di samping keterampilan dan kemampuan, wirausaha juga memiliki pengalaman yang seimbang.menurut A. Kuriloff, Jhon M. Memphil, Jr dan Douglas cloud ada empat kemampuan utama yang diperlukan untuk mencapai pengalaman yang seimbang agar kewirausahaan berhasil, di antaranya :
1.      Technical competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang rancang bangun (knowhow) sesui dengan bentuk usaha yang akan dipilih. Misalnya, kemampuan dalam bidang teknik produksi dan desain produksi. Ia harus betul-betul mengetahui bagaimana barang dan jasa itu dihasilkan akan disajikan.
2.      Marketing competence, yaitu memiliki kompetensi dalam menemukan pasar yang cocok, mengidentifikasi pelanggan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Ia harus mengetahui bagaimana menemukan peluang pasar yang spesifik, misalnya pelanggan dan harga khusus yang belum dikelola pesaing.
3.      Financial competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang keuangan, mengatur pembelian, penjualan,pembukuan, dan penghitungan laba/rugi. Ia harus mengetahui bagaimana mendapatkan dana dan menggunakannya.
4.      Human relation competence, yaitu kompetensi dalam mengembangkan hubungan personal, seperti kemampuan berelasi dan menjalin kemitraan antar-perusahaan. Ia harus mengetahui hubungan inter-personal secara sehat.

Sedangkan menurut Norman M.scarborough (1993), kompetensi kewirausahaan yang diperlukan sebagai syarat-syarat bisnis tersebut, meliputi :
1.      Proaktif, yaitu selalu ada inisiatif dan tegas dalam melaksanakan tugas.
2.      Berorientasi pada prestasi/kemajuan, cirinya:
a)      Selalu mencari peluang.
b)      Berorientasi pada efisiensi.
c)      Konsentrasi untuk kerja keras.
d)     Perencanaan yang sistematis.
e)      Selalu memonitor (check and recheck)

3.      Komitmen terhadap perusahaan atau orang lain, cirinya :
a)      Selalu penuh komitmen dalam mengadakan kontrak kerja.
b)      Mengenali pentingnya hubungan bisnis.


Umumnya, wirausaha yang memiliki kompetensi-kompetensi tersebut, cenderung berhasil dalam berwirausaha. Oleh karena itu, bekal kewirausahaan yang berupa pengetahuan dan bekal keterampilan kewirausahaan perlu dimiliki. Beberapa bekal pengetahuan yang perlu dimiliki misalnya :
1.      Bekal pengetahuan bidang usaha yang dimasuki dan lingkungan usaha yang ada di sekitarnya.
2.      Bekal pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab.
3.      Pengetahuan tentang kepribadian dan kemampuan diri.
4.      Pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisnis.
Sebagian besar wirausaha yang berhasil cenderung memiliki tingkat ketrampilan khusus yang cukup. Beberapa keterampilan yang perlu dimiliki di antaranya :
1.      Ketrampilan konseptual dalam mengatur strategi dan memperhitungkan resiko.
2.      Keterampilan kreatif dalam menciptakan nilai tambah.
3.      Keterampilan dalam memimpin dan mengelola.
4.      Keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi.
5.      Keterampilan teknik dalam bidang usaha yang dilakukan.


Ketrampialan dasar manajemen (basic managemen skill) meliputi :
1.      Tecnical skill, yaitu keterampilan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas khusus, seperti skretaris,akuntan-auditor, dan ahli gamabar.
2.      Human relations skill, yaitu keterampilan untuk memahami, mengerti, berkomunikasi, dan berelasi dengan orang lain dalam organisasi.
3.      Conceptual skill, yaitu kemampuan personal untuk befikir abstrak, untuk mendiagnosis dan untuk menganalisis situasi yang berbeda, dan melihat situasi luar. Keterampilan konseptual sangat penting untuk memperoleh peluang pasar baru dan memahami tantangan.
4.      Decision making skill, yaitu keterampilan untuk merumuskan masalah dan memilih cara bertindak yang terbaik untuk memecahkan masalah tersebut. Ada tiga tahap utama dalam pengambilan keputusan, yaitu :
a)      Merumuskan masalah,mengumpulkan fakta, dan mengidentifikasi alternatif pemecahannya.
b)      Mengevaluasi setiap alternatif dan memilih alterntif yang terbaik.
c)      Mengimlementasikan alternatif yang terpilih, menindaklanjutinya secara periodik, dan mengevaluasi keefektifan yang telah dipilih tersebut.
5.      Time management skill, yaitu keterampilan dalam menggunakan dan mengatur waktu seproduktif mungkin.


Untuk mencapai keberhasilan usaha yang dimiliki sendiri, sangatlah tergantung pada :
1.      Individual skill and attitudes, yaitu keterampilan dan sikap individual.
2.      Knowledge of business, yaitu pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukan.
3.      Estabilishment of goal, yaitu kemantapan dalam menentukan tujuan perusahaan.
4.      Take advantages of the apportunities, yaitu keunggulan dalam mencari peluang-peluang.
5.      Adapt to the change, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan.
6.      Minimize the thereats business, yaitu kemampuan untuk meminimalkan ancaman terhadap perusahaan.


Cara memasuki dunia usaha.
Ada tiga cara yang dapat dilakukan memulai usaha atau memasuki dunia usaha yaitu :
1.      Merintis usaha baru (starting), yaitu membentuk dan merintis usaha baru dengan merintis usaha baru dengan menggunakan model,ide, organisasi manajemen yang di rancang sendiri.
2.      Membeli perusahaan orang lain (buying), yaitu dengan membeli perusahaan yang telah didirikan atau dirintis dan diorganisasi orang lain dengan nama (good will) dan orgaisasi usaha yang ada.
3.      Kerja sama manajemen (franchising), yaitu suatu kerja sama enterepreneur (franchisse) dengan perusahaan besar frnchisse company) dalam mengadakan persetujuan jual beli hak untuk menyelenggarakan usaha(waralaba). Kerja sama ini dengan dukungan awal seperti pemilihan tempat, bangunan, pembelian peralatan,pola arus kerja, pemilihan karyawan, pembukuan, pencatatan dan akuntansi,konsultasi,penetapan standar,promosi,pengendalian kualitas,riset,nasihat hukum, dan sumber-sumber permodalan.
Menurut Norman scarbourh, kompetensi usaha yang diperlukan meliputi :
1.      Kemampuan teknik, yaitu kemampuan tentang bagaimana memproduksi barang dan jasa serta cara menyajikannya.
2.      Kemampuan pemasaran, yaitu kemampuan tentang bagaimana menemukan pasar dan pelanggan serta harga yang tepat.
3.      Kemampuan finansial, yaitu kemampuantentang bagaimana memperoleh sumber-sumber dana dan cara menggunakannya.
4.      Kemampuan hubungan, yaitu kemampuan tentang bagaimana cara mencari, memelihara dan mengembangkan relasi, dan kemampuan komunikasi serta negoisasi


Dalam merintis usaha baru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
1.      Bidang dan jenis usaha yang dimasuki.
2.      Bentuk usaha dan bentuk kepemilikan yang akan dipilih.
3.      Tempat usaha yang akan dipilih.
4.      Organisasi usaha yang akan digunakan.
5.      Jaminan usaha yang mungkin diperoleh.
6.      Lingkungan usaha yang akan berpengaruh.


Pengelolaan usaha dan strategi kewirausahaan.
Perencanaan usaha sebagai langkah awal dalam memulai usaha memiliki dua fungsi, yaitu sebagai pedoman untuk mencapai keberhasilan manajemen dan sebagai alat untuk mengajukan kebutuhan permodalan. Dalam perencanaan biasanya memuat unsur-unsur ringkasan eksekutif, sejarah perusahaan, profil usaha,strategi usaha, barang dan jasa yang dihasulkan, strategi pemasaran,analisis pesaing, ringkasan pemilik, rencana operasi, data keuangan, proposal pinjaman, dan jadwal pelaksanaan.

Selain membuat perencanaan, wirausaha juga harus mencari sumber keuangan, ada dua sumber keuangan, yaitu internal perusahaan (terdiri dari cadangan, dana perusahaan dan laba di tahan), dan sumber dari eksternal perusahaan (terdiri dari dana dari pemilik dari pinjaman atau kredit negara lain).

Kunci penting dalam perusahaan adalah pemasaran. Pemasaran merupakan suatu kegiatan meneliti kebutuhan dan keinginan konsumen (probe), menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen (product), menentukan tingkat harga (price), mempromosikan agar produk dikenal konsumen (promotion), dan mendistribusikan produk ke tempat konsumen (place), supaya barang disukai, dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen. Ada enam strategi dalam memenuhi permintaan konsumen, yaitu :
1.      Berorientasi pada pelanggan.
2.      Menutamakan kualitas.
3.      Memfokuskan perhatian pada kesenangan hidup.
4.      Berkonsentrasi pada inovasi.
5.      Mempercepat waktu baik dalam menempatkan produk baru maupun dalam menanggapi keinginan konsumen.

Ada empat strategi yang biasanya digunakan wirausaha dalam menghadapi lingkungan eksternal, yaitu :
1.      Berada pertama di pasar dengan produk dan jasa baru,
2.      Memposisikan produk dan jasa tadi dalam relung yang tidak terlayani.
3.      Memfokuskan produk dan jasa tadi pada relung yang kecil tetapi bisa bertahan.
4.      Mengubah karakteristik produk, pasar, dan industri.

Wirausaha yang berfungsi sebagai manajer perusahaan, harus memiliki :
1.      Berfokus pada pasar bukan pada teknologi.
2.      Meramal pendanaan untuk menghindari tidak terjadinya perusahaan.
3.      Membangun tim manajemen.
4.      Memberikan peran khusus bagi penemu. Dengan kompetensi tersebut, seseorang diharapkan bisa memelihara semangat wirausaha dorongan perilaku kreatif.
Kompetensi inti dan strategi besaing dalam kewirausahaan.
Dalam manajemen perusahaan modern seperti sekarang ini telah terjadi pergeseran strategi, dari strategi perusahaan untuk memasimalkan keuntungan bagi pemegang saham (shareholder) melaui pencarian laba, ke manfaat bagi stakeholder (yaitu perseorangan atau kelompok yang memiliki kepentingan dalam kegiatan perusahaan, seperti karyawan, majikan, pembeli, masyarakat, pemasok, pemegang saham, distibutor, dan pemerintah ).

Menerut teori ekonomi mikro neo-klasik dari mazhab austria, perusahaan bisa memperoleh keuntungan bila memiliki keunggulan yang unik untuk menghindar dari persaingan sempurna. Keuntungan tersebut hanya bisa tercipta dari penemuan para wirausaha.

Suatu perusahaan dapat mencapai keberhasilan bila tiga kondisi dipenuhi :
1.      Tujuan perusahaan dan kebijaksanaan fungsi-fungsi manajemen (seperti produksi dan pemasaran) harus secara kolektif memperlihatkan posisi yang terkuat di pasar.
2.      Tujuan dan kebijaksanaan tersebut ditumbuhkan berdasarkan kekuatan perusahaan, serta diperbarui terus (dinamis) sesuai dengan perubahan peluang dan ancaman lingkungan eksternal.
3.      Perusahaan harus memiliki dan mengeksploitasi kompetensi khusus (distinctive competency) sebagai pendorong (drivers) untuk menjalankan perusahaan, misalnya dengan “reputasi merek” dan biaya produksi yang rendah. Kompetensi khusus ini harus dikembangkan terus (dinamis)


Sedangkan untuk menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan krisis eksternal, perusahaan kecil dapat menggunakan teori “resource-based strategy”
Untuk menghadapi kondisi yang semakin dinamis (hypercompetitive) perusahaan harus menekankan pada strategi yang memfokuskan pada pengembangan kompetensi inti (building core competency),pengetahuan, dan keunikan intangible asset, untuk menciptakan keunggulan.

Etika bisnis dan kewirausahaan.
Eyika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntutan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Etika, asalnya adalah suatu komitmen untuk melakukan apa yang benar dan menghindari apa yang tidak benar.

Etika harus dikembangkan oleh perusahaan dengan memperhatikan stakeholders. Ada dua jenis steakholders yang mempengaruhi keputusan perusahaan yaitu internal stakeholders dan external stakeholders. Beberapa kelompok stakeholders diantaranya para pengusaha/mitra usaha, pemasok bahan baku, organisasi pekerja, pemerintah,bank,investor,masyarakat umum,pelanggan, dan konsumen. Di samping itu, ada beberapa takeholder kunci (key stakeholder), yaitu manajer,direktur, dan kelompok khusus lainya. Loyalitas para stakeholder (stakeholder loyalty) tersebut sangat tergantung pada kepuasan mereka.

Secara universal ada 10 prinsip etika yang mengarahkan perilaku yaitu :
1.      Kejujuran
2.      Intergritas
3.      Memelihara janji
4.      Kesetiaan
5.      Keadilan
6.      Suka membantu orang lain
7.      Kewarganegaraan yang tanggung jawab
8.      Mengejar keunggulan
9.      Dapat dipertanggungjawabkan
10.  Menghormati orang lain














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar